Tantri Sebut Terduga Pelaku Penipuan, 5 Tahun Bangun Kepercayaan Ortu Murid

Tantri Sebut Terduga Pelaku Penipuan, 5 Tahun Bangun Kepercayaan Ortu Murid

Muhammad Ahsan Nurrijal - detikHot
Minggu, 28 Jun 2026 13:51 WIB
Tantri Kotak dan Arda Naff
Tantri Kotak dan suami ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Foto: Ahsan/detikHOT
Jakarta -

Keinginan Tantri Syalindri untuk membantu teman berujung pada kerugian besar. Vokalis band Kotak ini mengungkapkan modus dugaan penipuan yang dilakukan oleh seseorang bernama Popi Novitasari, yang telah membangun kepercayaan di lingkaran pertemanannya selama bertahun-tahun.

Kejadian ini bermula dari kedekatan mereka di sebuah komunitas orang tua murid. Tantri mengaku mengenal pelaku sejak anak pertamanya masih duduk di bangku taman kanak-kanak, sekitar lima hingga enam tahun lalu. Hubungan tersebut murni pertemanan, bahkan mereka sempat melakukan liburan bersama antar keluarga.

"Kita tuh temenan dari komunitas ibu-ibu sekolah. Ibu-ibu sekolah yang memang aku kenal sama dia dari zaman anakku yang pertama. TK di Ciss, sudah hampir enam tahun ya. Hampir lima tahunlah. Lima tahun temenan. Terus semua terlihat baik-baik saja," kata Tantri Kotak saat ditemui di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (27/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah sekian lama menjalin hubungan baik, pelaku mulai menawarkan kerja sama investasi pada tahun 2024. Alasan yang digunakan pelaku adalah untuk membantu performa kerjanya sebagai tenaga penjual di sebuah perusahaan. Pelaku juga memanfaatkan latar belakangnya sebagai single mother untuk memicu empati para korbannya.

ADVERTISEMENT

"Awalnya, 'Gue butuh bantuan, eh invest deh, gitu, biar gue tuh stabil di posisi pekerjaan', karena memang kita basic-nya teman dan nggak melihat yang gimana-gimana dan kita tahu banget gitu dia punya anak, dia seorang ibu yang memang single mother, background-nya itu. Pengin bantu gitu," terang Tantri.

Setahun pertama, investasi tersebut berjalan lancar. Tantri menyebut pelaku sangat mahir dalam menata kondisi psikologis teman-temannya sehingga mereka merasa yakin bisnis tersebut aman. Pelaku membangun kepercayaan secara bertahap hingga Tantri dan teman-teman komunitasnya terjebak lebih dalam.

"Dia jago banget psikologis, jago banget menata psikologis semua teman-temannya gitu, dan jago banget mengecap, meyakinkan semua teman-temannya kalau dia tuh adalah orang yang butuh dibantu dan dia pengen ngebantu gitu," jelasnya.

Setiap kali Tantri mendapatkan pencairan atau keuntungan, pelaku langsung menawarkan kontrak baru dengan iming-iming pencairan yang lebih cepat atau jangka pendek. Hal ini membuat uang milik korban terus tertahan di tangan pelaku tanpa disadari.

"Ternyata aku baru ngeh, setiap kali aku dapat pencairan tuh dia selalu nawarin satu hal kontrak baru, kontrak baru. Jadi aku cair aku masukin, aku cair aku masukin. Nah aku bingung sama cash flow, kok nih kok aneh ya, duit gue kok segini-gini aja ya, kok malah ilang-ilangan terus ya," pungkasnya.

Kejadian mencapai puncaknya pada 19 Juni 2026, ketika pelaku menghilang tanpa kabar setelah Tantri melakukan transfer terakhir. Hingga saat ini, pelaku yang diketahui membawa serta kedua anaknya itu masih dalam pencarian, sementara Tantri bersama puluhan korban lainnya mulai menempuh jalur hukum.



(ahs/pus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads