Aktor sekaligus komedian, Boby Tince, membagikan kisah pilu mengenai kebangkrutan bisnis travel umrah yang dijalaninya. Bisnis yang semula diharapkan menjadi sumber penghasilan baru tersebut justru berujung pada kerugian finansial yang mencapai angka lebih dari Rp 2 miliar. Kegagalan ini memaksanya untuk mengambil langkah ekstrem demi menjaga integritasnya di hadapan para jamaah.
Kondisi keuangan perusahaan yang tidak sehat menjadi pemicu utama kejatuhan bisnis tersebut. Pemilik nama asli Boby Rachman itu mengaku biaya operasional yang dikeluarkan setiap bulannya jauh lebih besar dibandingkan dengan pemasukan yang diterima. Situasi ini diperparah dengan status bisnisnya yang masih tergolong baru di industri travel umrah dan haji, sehingga beban branding dan operasional kantor menjadi sangat berat.
"Branding, pembiayaan operasional kantor, tidak mencukupi dengan income yang didapat dari hasil travel. Apalagi travel baru kan gitu. Jadi kita nombokin terus nih tiap bulan, tiap bulan sampai akhirnya dua tahun berjalan sudah benar-benar nggak bisa lagi bergerak," kata Boby Tince dalam YouTube TRANS7 dikutip detikcom, Minggu (17/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain masalah manajemen internal, komedian berusia 41 tahun itu juga menghadapi serangkaian musibah yang tidak terduga. Ia mengaku menjadi korban penipuan dari berbagai pihak yang bekerja sama dengan travel miliknya. Tidak hanya dari pihak vendor, kerugian juga datang dari agen yang tidak bertanggung jawab hingga jamaah yang tidak memenuhi kewajiban pembayaran.
"Sempat ditipu juga sama vendor, dibawa kabur sama agen, dibawa kabur jamaah nggak bayar, pokoknya totalnya Rp 2 miliar lebih," jelasnya.
Demi melunasi seluruh utang dan mengembalikan hak para jamaah, Boby Tince terpaksa merelakan seluruh aset berharga yang dimilikinya selama berkarier di dunia hiburan. Ia memutuskan untuk menjual dua unit mobil dan dua unit rumah mewah miliknya di Jakarta. Keputusan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral agar sisa kewajiban finansialnya dapat segera terselesaikan.
"Mobil dua, rumah dua. Sudah. Ini mungkin juga kalau misalnya ada yang beli, karena saya masih ada sisa yang harus diselesaikan Rp 700 juta," ujar Boby.
Penjualan aset tersebut membuatnya harus berpindah tempat tinggal dari ibu kota menuju kawasan pedesaan di Bogor. Meski harus kehilangan kemewahan, ia mengaku lebih tenang menjalani hidup sederhana bersama ibunda dan kedua anaknya. Saat ini, ia fokus mengandalkan sisa aset berupa tanah kecil di kampung untuk membangun kehidupan barunya dari nol.
"Alhamdulillah masih ada tanah di kampung sebelah. Lebih jauh lagi dari sini, cuma luasnya lebih kecil," pungkasnya.
(ahs/nu2)











































