Aktor Ammar Zoni menangis saat membacakan nota pembelaan (pledoi) dalam sidang kasus peredaran narkoba di Rutan Salemba yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026). Ammar sebelumnya dituntut 9 tahun penjara.
Di awal pembacaan pledoi, Ammar menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga, orang terdekat, hingga media yang telah mengikuti jalannya persidangan. Ia menegaskan tidak akan mengulang pembelaan dari tim kuasa hukum.
"Pada kesempatan hari ini, saya tidak akan mengulang apa yang sudah disampaikan oleh kuasa hukum saya terkait nota pembelaan berdasarkan fakta-fakta persidangan dengan analisis yuridis mendalam serta argumentasi hukum," kata Ammar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (2/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Izinkan saya menyampaikan sesuatu yang belum pernah saya kemukakan kepada khalayak umum tentang diri saya. Sesuatu yang selalu saya simpan dan takut untuk menceritakan tentang rahasia diri ini. Maka di kesempatan pledoi ini, saya memberanikan diri untuk menyampaikan tanpa dilebihkan atau dikurangi," ungkapnya.
Ia berharap kejujuran tersebut dapat menjadi pertimbangan majelis hakim. Ammar berharap Majelis Hakim memberikan keputusan untuk nasibnya tentu lebih ringan dari tuntutan JPU.
Ammar menceritakan latar belakang keluarganya. Ia lahir dari keluarga dengan latar Minang dan Sunda. Cara didik keluarganya, Ammar sebut sangat disiplin.
"Saya lahir dari dua keluarga besar Minang dan Sunda, yang notabene adalah tentara. Ayah saya memberi nama saya Muhammad Ammar Akbar dengan harapan kelak melakukan perbuatan yang besar," tuturnya.
"Mama saya Sri Mulyatini adalah guru TK Islam Al-Muhajirin Depok," katanya.
Masa kecilnya disebut cukup harmonis dan jauh dari hal negatif. Keluarganya adalah kalangan berada.
"Saya tumbuh dari keluarga berkecukupan dan taat beragama serta jauh dari tindak kriminal apalagi narkoba. Kehidupan masa kecil saya cukup harmonis dan menyenangkan," ujarnya.
Namun, kebahagiaan itu gak lama. Ammar kehilangan adik perempuannya saat masih kecil dan ibunda divonis sakit kanker.
"Saat saya umur 7 tahun terkena DBD stadium tiga. Adik saya Shifa yang sehat juga terkena DBD. Hanya dalam waktu 3 hari adik saya tidak terselamatkan," ungkapnya.
"Mama divonis oleh dokter leukemia atau kanker darah putih stadium akhir, di saat sedang hamil adik saya Panji," katanya.
Ammar mengaku menyesali sikapnya sebelum ibunda meninggal. Dia pun ingat kata terakhir ibundanya sebelum meninggal.
"Saya masih nakal, suka ngebantah kalau dibilangin. Sampai kata-kata terakhir yang saya ingat, 'Kalau kamu jagain mama di sini terus siapa yang jagain adik-adik kamu di rumah?'" kenang Ammar Zoni soal ucapan terakhir ibunda.
"Tiba-tiba mama pulang dengan pakaian hijau putih terlihat sehat.... Kemudian mama memeluk kami bertiga. Setelah itu saya dibangunkan dan diberi tahu mama sudah meninggal," ujarnya.
Sejak kepergian ibunda, hidup Ammar berubah 180 derajat. Ia memilih tetap di Jakarta dan menjalani masa remaja yang kelam.
"Saya menjadi anak yang bandel, susah diatur, sering bolos sekolah, sering berantem, gak pernah salat," akunya.
"Saya nongkrong bersama anak punk, ngamen di stasiun, markirin di jalan, tidur di jalanan, kenal minum-minuman, kenal obat-obatan, sering tawuran," sambung Ammar Zoni.
Ia mengaku pernah pindah sekolah hingga 15 kali karena sering dikeluarkan. Hal itu akibat kenakalannya. Itu terjadi saat dirinya duduk di bangku SMP hingga SMA.
Alhasil keluarga memilih untuk mengirim Ammar Zoni ke kampungnya yang berada di Sumatera Barat.
"Saya dikirim ke Muara Labuh, Solok Selatan, tinggal bersama kakek dan nenek. Saya di sana bantu kakek urus sawah dan ladang serta belajar silat," ceritanya.
"Saya belajar silat dan agama di surau. Selama 3 tahun saya berhasil menjadi atlet pencak silat dan mendapat medali perunggu Porprov Sumbar 2011 serta tingkat internasional 2016," ungkap Ammar Zoni.
"Silat pula yang membawa saya melihat dunia sampai ke Hong Kong, Singapura, Malaysia, Brunei, dan membawa saya ke industri hiburan Tanah Air," tutup Ammar Zoni.
(fbr/pus)











































