Aktris Wulan Guritno mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi anak-anak di Nusa Tenggara Timur terkaitminimnya fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
Wulan Guritno menyoroti dampak serius ketiadaan fasilitas sanitasi terhadap kelangsungan pendidikan anak perempuan di daerah pedalaman. Sebagai seorang perempuan dan ibu, ia sangat memahami ragam ketidaknyamanan yang dialami remaja perempuan saat masa menstruasi tanpa adanya air.
"Anak-anak perempuan kan ini ada yang namanya datang bulan. Aku juga perempuan, punya anak perempuan, kita tahu pada saat kita datang bulan itu keadaannya bagaimana. Jadi harus ada fasilitas yang aman dan privat untuk anak-anak perempuan itu merasa nyaman," kata Wulan Guritno saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiadaan ruang tertutup dan krisis air bersih di sekolah membuat banyak siswi terpaksa absen dari kegiatan belajar mengajar. Rasa malu dan kondisi tubuh yang tidak higienis menjadi alasan utama para siswi memilih berdiam diri di rumah hingga siklus bulanan mereka selesai.
"Karena ada anak yang aku coba tanya, bilangnya kalau lagi datang bulan ya tidak sekolah. Alasannya malu, berarti berapa banyak hari terpotong mereka dan hal tersebut memang miris," beber Wulan Guritno.
Selain masalah fasilitas pembalut dan sanitasi untuk remaja perempuan, bintang film Jakarta vs Everybody itu juga menemukan kenyataan memprihatinkan terkait air minum anak-anak di sana. Ia mengamati hampir tidak ada murid yang membawa bekal air minum ke sekolah karena ketersediaan air yang sangat terbatas di rumah masing-masing.
"Sampai aku sempat ngobrol sama Syarifah, coba lihat tidak ada yang bawa botol minum. Sampai kita perhatikan di mobil perjalanan pulang, semua anak di sana tidak ada yang bawa botol minum. Bayangkan betapa berharganya dan susahnya air bersih, jadi mereka harus benar-benar tahan," terangnya.
Aktris berusia 44 tahun itu merasa sedih memikirkan daya tahan fisik anak-anak di pelosok Flores tersebut. Para siswa di wilayah terpencil harus menempuh perjalanan jauh dengan medan perbukitan tanpa asupan cairan yang memadai selama berada di lingkungan sekolah.
"Itu mereka jalan kaki ke sekolah naik ke atas gunung turun gunung. Akhirnya aku tanya sampai penasaran minumnya kapan, dan mereka jawab minumnya pas berangkat sekolah sama nanti pulang sekolah," pungkasnya.
(ahs/mau)











































