DetikHot

book

'Silent Wife': Perselingkuhan yang Menghancurkan

Jumat, 03 Mar 2017 11:06 WIB  ·   Is Mujiarso - detikHOT
Silent Wife: Perselingkuhan yang Menghancurkan Foto: Is Mujiarso
Jakarta - A.S.A Harrison, penulis asal Kanada, bukanlah nama yang dikenal di panggung buku fiksi sampai ia menerbikan novel berjudul 'The Silent Wife' pada 2013. Ini menjadi novel pertamanya sekaligus terakhir, sebab ia meninggal dunia karena penyakit kanker di usia 65 tahun, beberapa bulan sebelum bukunya terbit. Di pasaran, novel ini dipromosikan sebagai the next 'Gone Girl' —merujuk pada novel laris karya Gillian Flynn yang terbit sebelumnya, dan menjadi tonggak munculnya tren tema gelap di balik kehidupan pernikahan dalam genre yang diklaim sebagai "psychological thriller". Minimal, banyak novel yang terbit sejak itu menggunakan kata 'girl' sebagai judulnya.

Dengan latar belakang seperti itu, apa boleh buat, pembaca pun memiliki harapan tertentu ketika mulai menyantap 'The Silent Wife'. Dan, ternyata, tak sedikit yang kecewa. Ada yang mengatakan bahwa sebagai "thriller psikologis", 'The Silent Wife' terlalu datar, monoton dan membosankan. Bahkan ada pula yang mengatakan, bahwa novel ini bukanlah 'thriller psikologis' sama sekali. Di sisi lain, sejumlah kritikus menyalahkan promosi novel ini sebagai "Gone Girl berikut", sebab sebenarnya keduanya tak perlu disejajarkan, apalagi dibandingkan. Bagi kritikus jenis ini, 'The Silent Wife' justru lebih elegan dan mendalam dibanding 'Gone Girl', dan dengan demikian lebih bagus.

Mungkin terdengar klise bila pada akhirnya dikatakan bahwa semua akan kembali ke soal selera pembaca masing-masing. Namun, gambaran di atas sengaja dipaparkan untuk menyambut penerbitan edisi terjemahan Bahasa Indonesia atas 'The Silent Wife' oleh Penerbit Noura Books (grup Mizan). Dengan sampul hitam muram yang minimalis, pihak penerbit sengaja tidak memberikan judul dalam Bahasa Indonesia. Tulisan 'Silent Wife' berwarna kuning pucat dibuat seolah-olah torehan cat yang tak bersih, dengan cipratan di sekitarnya; cukup membuat buku ini menarik perhatian dengan gambar separo wajah perempuan yang dengan sebelah matanya seperti mengundang misteri, mengundang pembaca untuk menguaknya.

Dengan kepiawaian seorang pencerita andal yang telah kafah menguasai teknik penulisan fiksi, Harrison membuka novelnya dari tengah, dengan langsung memperkenalkan sang sang tokoh utama, Jodi Brett yang "kini hidupnya sedang kritis". Caranya menulis, gayanya, mengingatkan kita pada penulis Kanada lainnya, Alice Munro sang pemenang Hadiah Nobel. Apakah memang demikian cara penulis Kanada menulis --subtil, tenang, dingin dan menyedot perhatian? Mari, cicipi bagaimana Harrison memperkenalkan tokohnya:

Pada usia empat puluh lima, Jodi masih menganggap dirinya seorang perempuan muda. Dia tidak memikirkan masa depan dan sungguh menikmati hidupnya saat ini, terus berfokus pada kesehariannya. Dengan demikian ia berasumsi segalanya akan terus berjalan dengan cara yang tidak sempurna, tapi bisa diterima sepenuhnya.

Tak berlama-lama, pembaca langsung diberitahu bahwa "ketangguhan masa muda" Jodi saat ini "sedang mendekati tahap akhir keruntuhan" karena "perlahan-lahan terkikis oleh kehidupan perkawinannya selama duapuluh tahun dengan Todd Gilbert". Setelah itu, Harrison langsung membuat pembacanya tegang dengan pernyataan bahwa "hanya perlu waktu beberapa bulan untuk menjadikannya seorang pembunuh". Apa yang terjadi? Apakah Todd selingkuh? Apakah Jodi benar-benar akan membunuhnya secara sadis layaknya tokoh perempuan yang terluka dalam novel-novel bertema kehancuran sebuah rumah tangga lainnya?

Hari-hari terasa berlalu sangat panjang dan sunyi untuk sampai pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Bahwa Todd ternyata selingkuh, dengan siapa dia berselingkuh, dan bagaimana perselingkuhan itu terjadi, penulis tak berlama-lama merahasiakannya. Semua langsung terungkap di bagian awal. Namun, apa yang terjadi setelah itu, menjadi teka-teki yang mencekam. Harrison mempermainkan mood dan emosi dengan mengajak pembaca menyelami hingga ke dasar jiwa-jiwa tokoh-tokohnya.

Sekilas, rasanya seperti sebuah panggung sinetron bahwa Natasha, perempuan yang membuat Todd mengkhianati Jodi adalah seorang mahasiswi. Bukan itu saja, ia bahkan tak lain putri dari sahabat Todd sendiri, yang tentu saja juga dikenal oleh Jodi. Namun, fakta-fakta itu tak lantas menjatuhkan novel ini ke dalam melodramatik yang "menye-menye". Harrison adalah penulis yang tak tergoda dengan sensasi untuk membuat pembacanya mengutuki perbuatan tokoh-tokohnya.

Todd tetaplah seorang pria kharismatik, di mata Jodi, juga bagi pembaca, bahkan setelah pengkhianatan yang dilakukannya. Dan, Jodi sendiri juga tetap seorang perempuan yang "menerima kebaikan bersama keburukan, tidak memulai pertengkaran, dan tidak mudah terpancing". Bagaimana pun dia seorang intelek berpendidikan tinggi. Ketika bertemu Todd, dia tengah mengambil studi pascasarjana Psikologi. Ketika mereka mulai hidup bersama, Jodi membuka praktik konsultasi psikologinya di kondominium mewah yang mereka tempati di Chicago. Sementara Todd, di usianya menjelang limapuluh, adalah seorang kontraktor properti jempolan yang membuka kantornya di kawasan yang tak kalah elit. Todd naik Porsche dan Jodi naik Audi; jadi apa yang kurang dari kehidupan mereka?

Rumah tangga mereka memang tanpa ikatan pernikahan tapi memang itulah yang dikehendaki sejak awal oleh Jodi. Dan, mereka tak punya anak —mungkinkah itu yang membuat Todd, yang pada dasarnya memang seorang peselingkuh, akhirnya berpaling pada Natasha? Todd pasti tidak sedangkal itu, dan novel ini secara berganti-ganti menginterogasi kehidupan pasangan "ideal" tersebut dan menelanjangi sisi masing-masing. Bahwa di balik kenyamanan yang dinikmati Jodi, ternyata tersimpan lapisan-lapisan persoalan yang tak sederhana, yang tak hanya menyangkut perilaku Todd, melainkan juga berpangkal dari caranya sendiri dalam memandang dan menyikapi segala hal.

Diperlukan cukup kesabaran untuk membaca novel ini, karena ketabahannya dalam mengungkap perasaan tokoh-tokohnya. Penerjemahan yang dikerjakan oleh Inggrid Nimpoena mengalir tanpa cacat, enak dibaca dan itu membantu untuk membuat novel setebal 366 halaman ini tak mau menunggu berlama-lama diselesaikan. Ada bagian-bagian yang nyaris tanpa dialog, dan ada saat ketika suara penulis seolah-olah muncul, dengan komentar dan analisisnya, dengan teori-teori psikologinya —Jung, Adler hingga Albert Ellis sang bapak pergeseran paradigma perilaku kognitif dalam psikoterapi. Namun, dengan lembut dan tangkas, Harrison langsung mengembalikan konteksnya bahwa semua itu tak lain suara hati dari sang tokoh yang tengah bergulat dengan batinnya. Sehingga pembaca tidak merasa dikuliahi, melainkan justru banyak belajar dari "kearifan" dan pengalaman, baik masa lalu maupun masa kini, dari tokoh-tokoh dalam novel ini, terutama Jodi.

Sungguh, ini sebuah bacaan yang cerdik dan kaya, dari seorang penulis yang berwawasan dan sensitif —seorang penulis yang bisa membuat tokohnya "menyadari keheningan di balik dapur", tahu cara menikmati kehidupan dengan hal-hal rutinitas yang sederhana, sambil meyakini bahwa "rutinitas harian adalah obat mujarab yang menjaga semangat dan mempertahankan hidup, dan mengenyahkan ketakutan eksitensial yang bisa menyergap setiap saat…mengingatkat betapa besar kekosongan yang bisa diisi." 'Silent Wife' adalah karya yang lahir dari seorang penulis yang memiliki keahlian untuk tak sedekar membuat pembacanya percaya, tapi juga setuju.



(mmu/mmu)
Photo Gallery
1
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed