DetikHot

art

Tak Ada Gajah di Tengah Laut

Sabtu, 25 Nov 2017 13:15 WIB  ·   Muhaimin Nurrizqy - detikHOT
Tak Ada Gajah di Tengah Laut Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Pantai itu begitu tenang. Angin berembus tidak nakal. Aroma garam semerbak tercium begitu saja. Gelombang ombak-ombak kecil mengempas di bibir pantai. Lalu sebuah pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan keluar dari mulut anak saya, "Itu gajah, ayah?" Ia menunjuk ke arah laut. Dan tentu saja, di tengah laut itu tidak ada apa-apa selain air yang serupa permadani biru yang luas.

"Mana?" tanya saya.

"Di sana. Di tengah-tengah laut itu, ada seekor gajah yang sedang berjalan," jawab Rosie, anak saya.

"Gajah yang berjalan? Mana mungkin ada gajah di tengah laut, Rosie."

"Benar, ayah, itu gajah. Gajah itu sedang berjalan di tengah laut."

Saya tertawa. Kemudian saya gendong anak berusia enam tahun itu ke pangkuan saya. Saya usap-usap rambutnya. Barangkali otak anak saya panas akibat matahari yang akhir-akhir ini begitu menyengat. Efek atmosfer bumi yang sudah banyak bolong.

Kemudian tentu, sebagaimana seorang ayah, saya akan melakukan gerakan-gerakan untuk menghibur anak saya. Saya gelitiklah ketiaknya. Saya ciumlah leher dan pipinya yang serupa bakpao itu. Lalu, saya gendong ia tinggi-tinggi dan melemparkannya dan menangkapnya. Dengan tidak sengaja, saya menjatuhkan Rosie ke pasir. Tangan saya sepertinya kurang kokoh. Ah. Begitu sulitkah menjadi seorang ayah?

Rosie yang terjatuh ke pasir malah tertawa. Ia tidak menangis. Tidak seperti anak-anak lain yang setiap hari kerjanya hanya menangis dan menangis. Barangkali juga, karena pasir tidak sekeras batu. Memang, sebenarnya pasir berasal dari bebatuan yang melebur. Tapi apakah pasir pantai berasal dari bebatuan? Saya tidak yakin. Karena pada suatu saat, ketika saya sedang bermain di sebuah pulau, saya melihat pasir pantai itu berasal dari leburan kerang-kerang laut. Leburan kerang-kerang laut. Benar sekali. Butuh berapa ribu tahun agar kerang itu bisa melebur? Itulah pertanyaan saya ketika itu. Dan, tentu, saya tidak bisa menjawab, karena tidak putus bagi saya untuk memikirkan hal itu. Tapi, berapa tahun?

Barangkali butuh jutaan tahun untuk meleburkan cangkang kerang. Dari sebuah buku majalah foto, saya membaca, cangkang sebuah kerang terkandung kalsium, fosfor, dan protein. Tidak ada hewan laut yang mampu menembus cangkang kerang, termasuk gigitan hiu putih yang terkenal kuat itu. Namun, bukankah cangkang kerang sudah banyak menjadi pajangan? Seperti gantungan kunci, juga perhiasan di rambut perempuan. Ya. Jika gigitan hiu putih tidak mampu meretakkan atau menghancurkannya, barangkali bor listrik bisa. Karena tidak ada yang tidak bisa dilawan oleh teknologi yang diciptakan manusia, bukan? Dan, apakah ciptaan manusia selalu diciptakan untuk melawan alam? Entahlah.

Angin berembus. Udara bergaram menerpa wajah dan rambut Rosie. Ia masih termenung melihat laut. Tidak ada suara lain selain debur ombak dan angin yang meniup di telinga. Pantai yang lengang. Selengang hati yang gundah.

Selembar kertas terbang di antara kami. Kemudian kertas itu mengayun-ayun di udara. Rosie mengejarnya. Ia seperti sedang mengejar seekor kupu-kupu. Seperti kupu-kupu yang terbang keluar dari sebuah gambar. Seperti gambar dari seorang anak yang hatinya kesepian.

"Ayah, ayo ikut aku!" teriaknya dari kejauhan.

Saya malas beranjak. Saya tersenyum saja, walau senyum saya tidak akan terlihat oleh Rosie, karena jaraknya jauh. Saya lambaikan saja tangan saya kepadanya. Kakinya terlihat semakin kecil dari sini. Rambut panjangnya berterbangan. Rambut itu terlihat seperti seekor gurita yang sedang menari-nari. Gurita, ya, seekor gurita.

"Hati-hati. Jangan mendekati air," teriak saya.

Rosie terus mengejar selembar kertas itu. Suara saya belum berat dan besar. Pengaruh suntik itu belum sempurna sepertinya. Saya tidak tahu apakah ia mendengar perkataan saya atau tidak. Biarlah. Ia terlihat senang mengejar selembar kertas itu. Saya sebagai seorang ayah sepatutnya bergembira melihat anak saya mengejar sesuatu yang ia senangi, bukan? Dan, Rosie terus berlari menjauh mengejar selembar kertas itu.

Saya antara sadar atau sedang berada dalam lamunan? Sebab saya tidak bisa memfokuskan pandangan terhadap sesuatu. Badan saya memang sedang duduk di pasir ini, namun pengana saya berkelebat terbang entah ke mana. Terbang ke mana? Entahlah. Barangkali ke sesuatu tempat yang tidak ingin saya kunjungi. Ke sebuah masa yang ingin saya kubur dalam-dalam. Namun, bukankah sesuatu hal yang dikubur akan tumbuh. Jadi percumalah seseorang mengubur ingatannya dalam-dalam. Karena semakin dalam hal itu terkubur, ia akan mudah mendapatkan zat hara di dasar. Dan, itu tentu membuatnya akan cepat bergenerasi untuk tumbuh menjulang keluar dari kuburnya. Tapi, apakah orang-orang mengubur ingatan di dalam tanah? Mungkin saja.

Dalam pandangan yang antara melihat dan tidak melihat ini, saya melihat Rosie semakin menjauh mengejar selembar kertas itu. Selembar kertas? Siapa pula yang menerbangkan kertas itu? Dan, mengapa kertas itu tak kunjung ditangkap oleh Rosie? Apakah terbangnya begitu tinggi? Mengapa angin dengan sebegitunya ingin menerbangkan selembar kertas yang dikejar anak kecil dengan hati yang tulus? Apakah angin itu ingin bermain dengan Rosie? Mungkin saja.

Atau, mungkin juga selembar kertas itu adalah sebuah cerpen yang ditulis seorang cerpenis urban yang tinggal di apartemen lantai paling atas, dengan seorang perempuan yang hanya berguna untuk proses kreatifnya? Lalu cerpen itu ia biarkan terbang bersama dengan birahi yang hampir mencapai puncak! Hhmm… Bisa saja.

Entah kenapa kemudian saya ingin menundukkan kepala saya. Melihat pasir-pasir yang menutupi sebagian jari-jari kaki saya. Saya gerakkan jari-jari itu. Pasir-pasir terpental ke mana-mana. Itu membuat kuku kaki saya terlihat. Kuku kaki. Saya ingat, dulu kuku kaki itu sering saya cat dengan warna ungu. Bagi saya, ungu adalah warna misteri. Entahlah. Ia perpaduan warna merah dan biru. Sebuah warna yang terlahir dari beraninya merah dan sendunya biru. Sebuah kolaborasi yang begitu ambigu.

Jari tangan kemudian saya lebarkan. Jari-jari tangan yang masih melentik. Lalu kuku tangan. Namun, kuku tangan tidak pernah saya cat dengan warna ungu, melainkan warna putih. Biarlah warna yang ambigu itu tersembunyi di bagian bawah. Lebih baik warna putih terlihat di atas. Karena putih adalah suci. Suci seperti tangisan bayi ketika keluar dari tempurung rahim ibunya.

Saya tiba-tiba terkenang suara tangisan bayi ketika saya baru saja mencukur botak kepala saya sembilan tahun lalu. Di sebuah tong sampah di bawah apartemen. Apakah bayi ini hasil pembuangan dari cinta yang terlarang? Entahlah. Bayi mungil itu menangis. Tangannya yang mungil meronta-ronta. Barangkali bayi itu kedinginan. Karena pada umur segitu, apa yang bisa diucapkan seorang bayi selain bahasa tangisan? Bayi mungil itu saya gendong. Saya bawa pulang ke kamar sewa.

Entah setan apa yang terlintas di kepala saya. Saya tiba-tiba menginginkan bayi itu hidup bersama saya. Saya akan menjadi seorang ayah yang baik baginya. Walau saya tidak memiliki seluruh batin dan perasaan seorang lelaki, namun saya yakin akan bisa menjadi seorang ayah yang diinginkan seorang anak perempuan.

Seorang ayah? Tidak. Saya tidak boleh mengingat lelaki itu. Lelaki yang tidak pantas untuk saya katakan sebagai seorang ayah. Benar. Lelaki itu bukanlah siapa-siapa di hidup saya. Dia hanyalah seseorang yang dengan tidak sengaja menanamkan benihnya ke dalam rahim seorang wanita yang juga sebenarnya bukan siapa-siapa. Bukan. Orang itu bukan ibu. Perempuan yang meneriaki saya ketika saya baru saja keluar dari rahimnya itu.

Dan, lalu entah kenapa saya dibesarkan oleh seorang laki-laki yang hidupnya tidak karuan. Dan, memang bukan lelaki itu yang menghidupi saya, namun sayalah yang menghidupinya. Segala hasrat dan permintaannya pasti akan saya lakukan. Apapun. Apapun! Karena jika tidak, saya tentu sudah mati sekarang.

Ah! Mengapa saya harus mengingatnya? Sepertinya memang benar. Setiap ingatan yang dikubur dalam-dalam hanya akan mempercepat proses pertumbuhannya. Lalu, saya harus apa? Menghancurkannya? Ya. Sepertinya harus menghancurkannya. Bukan menguburnya dalam-dalam!

"Ayah!" sesayup suara mengejutkan saya.

Kali ini saya benar-benar sadar. Saya menoleh ke suara itu. Itu Rosie. Ia terlihat begitu kecil. Sudah jauh ia mengejar selembar kertas itu. Tapi ia tampak tidak sedang mengejar. Ia berdiri menatap lurus ke arah laut.

"Ayah, ke sini!" suara Rosie terdengar sayup-sayup namun jelas. Ia menggerakkan tangannya seperti mengajak.

Dengan langkah yang terburu saya mendekati Rosie. Ketika berada tidak jauh dari Rosie, ia berkata, "Ada seekor gajah, ayah!" ia berteriak ke arah saya sambil menunjuk ke tengah laut. Matanya yang bulat, bening, dan bersih itu tampak begitu murni. Mata lugu yang tidak memiliki salah.

Saya lalu menggendong Rosie ke pundak saya dan membawanya pergi menjauh dari bibir pantai. "Tidak ada gajah di tengah laut, Rosie."

Saya kemudian membalikkan badan. Punggung saya mengarah ke laut. Di pundak saya Rosie kembali berteriak sambil terus melihat ke arah laut. "Benar, ayah, itu gajah. Dan gajah itu berjalan ke arah kita!"

"Tidak ada gajah di tengah laut, Rosie. Gajah hanya ada di hutan."

"Lihat, ayah, itu seekor gajah! Itu seekor gajah yang besar! Itu…"

Saya lalu membalikkan badan. Tubuh Rosie pun ikut membalik ke arah laut. "Ayah, aku takut," bisik Rosie. Kemudian Rosie menyandarkan kepalanya di antara buah dada saya. Karena biayanya besar, saya masih mengumpulkan uang untuk operasi pengempesan payudara ini.

Saya melihat hamparan permadani biru itu. Tidak ada apa-apa. Semua lengang. Tapi, tunggu. Tunggu dulu. Di tengah sana. Jauh di seberang lautan sana, saya melihat sesuatu yang hitam. Apakah benar hitam? Ya. Sesuatu yang hitam. Sesuatu yang mirip seperti kapal. Sesuatu hitam yang terlihat semakin besar dan besar. Apakah benar itu sebuah kapal? Tidak. Itu tidak seperti sebuah kapal. Lalu apakah… Apakah itu benar… benar-benar seekor gajah? Tidak. Itu bukan seekor gajah.

Sesuatu yang hitam. Yang semakin lama semakin mendekat. Dengan suara yang bergetar saya berkata kepada Rosie, "Itu bukan seekor gajah, nak, namun kegelapan. Kegelapan yang akan menjemput kita."

Angin berubah ribut. Suara petir beradu petir menggema di telinga kami. Lalu mata Rosie. Mata bulat bersih itu memantulkan cahaya putih berkali-kali. Seolah-olah kilat-kilat itu benar-benar berada di bulat matanya. Mendekam di pangkal pandangnya….

Padang, 2017

Muhaimin Nurrizqy lahir di Padang, 12 Oktober 1995. Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Menulis esai, cerpen, dan puisi. Penyuka dan pembuat film

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed