DetikHot

art

Mengupas Puisi di Asean Literary Festival 2017

Minggu, 06 Ags 2017 19:02 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Mengupas Puisi di Asean Literary Festival 2017 Foto: Mengupas Puisi di Asean Literary Festival (Saras/detikhot)
Jakarta - Diskusi lainnya yang ada di dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival hari ke-4 adalah diskusi bertajuk 'Young Poets on Politics and Society'. Aan Mansyur, Rosdah, Marius Hulpe dari German, dan Hariz Fadhilah dari Brunei Darussalam menjadi pembicara dalam diskusi tersebut.

Berlangsung di Gedung Pos, Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat pada Minggu (6/8/2017), diskusi tersebut membicarakan kritik sosial dan hal-hal politis yang berada di balik sebuah puisi dan bagaimana peran penyair di dalam masyarakat.

Menurut Marius Hulpe, ada banyak isu menarik yang dapat diangkat ke dalam puisi baik di Eropa maupun di Indonesia.

"Lewat puisi, kita dapat menggunakan bahasa non-politis untuk membicarakan hal-hal yang politis. Kita bisa menggunakan bahasa dan hal-hal lain untuk mendeskripsikan sesuatu. Ada hal-hal besar yang kerap dibicarakan dalam puisi, namun dengan puisi, hal kecil pun bisa menjadi sangat politis," ungkapnya dalam diskusi tersebut.

Ia juga mengatakan, dirinya malah mencoba menghindari tema-tema yang sudah selalu muncul di dalam karya sastra agar tidak klise.

Serupa dengan pernyataan Marius Hupe, Rosdah, penyair muda asal Yogyakarta sepakat bahwa puisi adalah jalan yang baik untuk bisa mengkritisi politik.

"Misalnya ketika saya menulis tentang korupsi. Saya bisa mengganti subjeknya menjadi hal-hal yang berbau alam. Seperti relasi tumbuhan dengan binatang, misalnya," ujar Rosdah.

Sedangkan Hafiz Fadhilah mengungkapkan, puisi memiliki bahasa yang intim yang bisa digunakan untuk mengutarakan suatu hal.

"Di negara saya, Brunei Darussalam, kesempatan untuk mengutarakan pendapat sangatlah terbatas. Indonesia lebih bisa menerima kritik. Saya baru berani untuk mempublikasikan tulisan saya setelah ikut residensi ke Indonesia," cerita Hafiz.

Melihat Sisi Politis dari Puisi Cinta

Yang menarik dari diskusi tersebut adalah topik yang diangkat oleh Aan Mansyur. Penyair yang terkenal berkat 'Tidak Ada New York Hari Ini' mengaku tidak pernah bermasalah jika ada yang menilainya sebagai penyair 'galau' karena menulis tema-tema cinta pada kebanyakan puisinya.

"Apa yang sering kita sebut sebagai politis adalah yang sering disimpulkan sebagai politik negara atau politik praktis, padahal dalam puisi tidak selalu seperti itu bekerjanya," ujar Aan Mansyur.

Baginya, puisi cinta juga bisa menjadi puisi yang politis dan gelisah. Ia mengambil puisi karyanya, 'Tidak Ada New York Hari Ini' sebagai contohnya.

"Mungkin banyak yang mengira ini hanya puisi cinta, galau. Tapi sebenarnya dari judulnya saja, ada relasi kuasa di dalamnya," jelasnya.

"Banyak yang berpikir bahwa New York adalah pusat dunia. Puisi ini mencoba menghilangkan pusat dunia tersebut dengan mengatakan tidak ada New York. Puisi yang bisa menghapus pusat dunia adalah puisi yang politis," lanjutnya.


(srs/doc)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed