DetikHot

art

Merayakan Sastra di Kota Tua

Minggu, 06 Ags 2017 13:33 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Merayakan Sastra di Kota Tua Foto: Asean Literary Festival (Agnes/detikhot)
Jakarta -

Kota Tua menjadi pilihan lokasi yang tepat bagi perayaan ASEAN Literary Festival (ALF) atau Festival Sastra ASEAN yang keempat. Tak hanya ingin berpesta dengan pecinta buku, komunitas literasi, penulis, maupun penerbit saja, namun ASEAN Literary Festival mencoba merayakan sastra bersama masyarakat umum.

Digelar di beberapa titik lokasi di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, gelaran sastra bertaraf internasional berlangsung selama tiga hari. Mulai dari booth yang memajang buku-buku jualan para penerbit, komunitas, sampai pesta puisi bersama penyair-penyair kenamaan Tanah Air.

Gelaran sastra yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menurut Direktur Program ASEAN Literary Festival, Okky Madasari, festival tersebut terus berkembang dan pihak penyelenggara mencari ruang kreatif baru.

"Ini tempat yang pas. Pihak Kemendikbud juga menyakinkan diri kita kalau bikin acara di sini bisa menjangkau orang-orang yang sebelumnya belum pernah terpapar dengan acara sastra, atau orang yang belum terjangkau dengan kegiatan literasi," kata Okky ditemui di Gedung Tjipta Niaga, di sela-sela penyelenggaraan ASEAN Literary Festival, Sabtu (5/8/2017).

Di hari ketiga, masyarakat umum memang terlihat antusias melihat-lihat setiap booth yang ada di ALF. Ada 24 booth di antaranya adalah penerbit Lontar, Indie Book Corner, Gramedia Pustaka Utama, Buku Perempuan, Thukul Cetak, Goodreads, Falcon Publishing, Grup MIZAN, Komunitas Supernova, dan lain-lain.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid yang berada di hari ketiga penyelenggaraan pun tak mau ketinggalan dengan hiruk pikuk pengunjung yang memadati area. Dia memborong buku-buku yang ada. Hilmar membeli buku yang diterbitkan oleh penulis perempuan.

Merayakan Sastra di Kota TuaFoto: Asean Literary Festival (Agnes/detikhot)



Di antaranya karangan Saras Dewi 'Kekasih Teluk', Feby Indriani 'Bukan Perawan Maria', Okky Madasari 'Yang Bertahan dan Binasa Perlahan'. Saat membeli buku-buku tersebut, ia menanyakan tentang isu yang diangkat dari buku tersebut.

Tak hanya booth dan stan kuliner saja, namun di enam titik lokasi juga digelar diskusi beragam tema. "Sejak awal penyelenggaraan, kami selalu meneguhkan posisi sebagai sebuah festival yang kritis dan selalu mempersoalkan apa yang terjadi di masyarakat. Itu jadi tiang kami dan tidak mungkin diubah," tutur penulis novel 'Entrok'.

Diskusi mengenai dunia penerbitan buku, isu radikalisme, populisme, persoalan gender dan perempuan, peluncuran buku hingga 'Poety Slam bersama Unmasked' pun menghiasi festival. Seperti acara ALF pada Sabtu malam (5/8) lalu dimeriahkan dengan kompetisi puisi yang dipandu oleh Komunitas Puisi Ibukota Unmasked bersama Pangerang Siahaan.

Acara dihadiri oleh ribuan pengunjung yang mayoritas anak muda dan diselenggarakan di Fatahuillah Square tersebut, menjadi penutup rangkaian acara ALF pada malam minggu tersebut. Kemeriahaan ASEAN Literary Festival masih berlangsung di hari terakhir pada Minggu (6/8).

Yuk, berakhir pekan di ASEAN Literary Festival 2017!


(tia/doc)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed