DetikHot

art

Tetap Eksis, Ini Cara Teater Populer Gaet Generasi Muda

Jumat, 02 Des 2016 18:20 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Tetap Eksis, Ini Cara Teater Populer Gaet Generasi Muda Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Usia tak memakan kreativitas dari kelompok Teater Populer. Didirikan oleh Teguh Karya yang kini dipercayakan pada Slamet Rahardjo, Teater Populer makin eksis menggaet generasi muda untuk tetap mencintai teater.

Lewat program yang diberi judul 'Srawung Kreatif', siapapun bisa berpartisipasi, berakting di sanggar yang terletak di Jalan Kebon Pala 1, dan belajar tentang akting di panggung teater. Artasya Sudirman yang berperan sebagai istri di lakon 'Suara-Suara Mati' menceritakan keikutsertaannya di pertunjukan kali ini.

"Januari tahun ini saya mulai latihan di sanggar Teater Populer tapi baru tiga bulanan ini ikut lakon 'Suara-Suara Mati'," ujarnya ketika mengobrol dengan detikHOT, usai pementasan di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Perempuan yang tadinya belajar berkesenian di Teater Tetas itu menceritakan lewat program 'Srawung Kreatif', siapa pun dengan latar belakang apa saja boleh ikut berteater. "Tidak ada aturan apa-apa. Bebas kok," lanjutnya.

Tetap Eksis, Ini Cara Teater Populer Gaet Generasi MudaFoto: Tia Agnes/ detikHOT


Teater Populer berdiri pada tahun 14 Oktober 1968 silam. Tadinya, kelompok teater ini bernama Teater Populer Hotel Indonesia, yang anggotanya berasal dari Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Penerus Teater Populer, Slamet Rahardjo, Teater Populer sampai sekarang masih diminati anak-anak muda.

"Teater Populer itu menjadi garda terdepan dari teater modern Indonesia. Kami hidup dan berkembang berbarengan dengan Bengkel Teater, Teater Kecil, Teater Mandiri, dan Studiklub Teater Bandung (STB). Di Srawung Kreatif, mereka tidak hanya diajarkan untuk menjadi seniman, tapi lebih dari itu. Seni adalah refleksi dari hidup," kata Slamet.

Meski awalnya, sutradara kelahiran 1949 ini mengaku tidak menyukai nama "populer". Menurutnya, kata "populer" jelek dan membuat dirinya malu ketika bercerita di Yogyakarta.

"Tapi Teguh Karya tidak reaktif tapi responsif, dia tidak bicara apa-apa. Dia diemin aja. Padahal kata "populer" di dalam kamus itu artinya "umum" atau yang standar-standar saja. Karena ya kami bikin karya yang standar saja, bukan yang adiluhung sampai bikin penonton bingung," kenang Slamet Rahardjo.

Perjalanan Teater Populer masih panjang, dan Slamet yakin penerus-penerus dari "Populer" lainnya akan tetap ada, hadir, dan meneruskan jejak langkah teater modern ini. Usai pentas di Salihara, berkali-kali Slamet menyerukan kalimat di depan awak media.

"Teater Populer harus hidup kembali, nggak harus meniru Teguh Karya," tutup Slamet Rahardjo.


(tia/dar)
Photo Gallery
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed