DetikHot
Kamis, 26 Jun 2014 13:34 WIB

Novel Baru Eka Kurniawan (3)

Kisah tentang "Burung" yang Tak Bisa Berdiri

- detikHot
Kisah tentang Burung yang Tak Bisa Berdiri
Jakarta - Mungkinkah masalah "burung" yang tak bisa berdiri menjadi cerita yang menyusun sebuah alur novel? Eka Kurniawan menjawabnya lewat novel terbarunya, 'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas'.

"Burung" yang tak bisa berdiri? Kesan yang pertama langsung tertangkap, ini seperti main-main saja. Begitulah, memang berbeda dibandingkan dengan dua novel sebelumnya, 'Cantik itu Luka' dan 'Lelaki Harimau' yang "serius" dan "berat", kali ini Eka mempersembahkan sebuah novel yang "ringan" dan penuh semangat main-main.

Novel setebal 243 ini akan habis Anda baca dalam sekali duduk, tanpa perlu jeda minum ataupun kencing. Sebab, Anda tak ingin menunda sedetik pun rasa penasaran yang menghantui sejak halaman pertama, kalimat pertama. Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati.

Itulah yang diucapkan oleh Iwan Angsa, ayah Si Tokek, perihal Ajo Kawir. Alkisah, novel dibuka dengan adegan ketika Ajo Kawir duduk di pinggir tempat tidur tanpa pakaian. Ia memandangi selangkangannya, memandangi kemaluannya yang seolah dalam tidur abadi, begitu malas. Ia berbisik kepadanya, bangun, bangun, Burung. Bangun, Bajingan...Tapi, Si Burung Kecil sialan itu tak mau bangun.

Ajo Kawir dan Si Tokek adalah dua bocah kampung yang kerjaannya selain berkelahi, mengintip janda sinting yang ditinggal mati suaminya. Suatu kali, ketika mereka sedang mengintip, ternyata ada dua polisi di rumah janda itu. Tertangkap basah, Ajo pun dipaksa oleh dua polisi itu untuk menyaksikan mereka memperkosa si janda. Sejak itu, hidup Ajo Kawir berubah, dan Si Tokek, juga Iwan Angsa pun ikut repot dibuatnya.

Eka menyajikan novelnya dalam paragraf-paragfar pendek, melompat-lompat, dengan waktu kejadian yang tak selalu bergerak lurus maju. Ia bisa memulai dari mana saja, membocorkan cerita di satu bagian, untuk kemudian menampilkannya kembali di bagian berikutnya dengan lebih jelas. Alurnya maju-mundur, kadang menikung, melingkar, menyilang, semau-maunya, mengikuti usaha membuat "burung" Ajo Kawir bisa berdiri kembali.

Dengan "burung" yang tak bisa berdiri, Ajo menjadi sumber keprihatinan orang-orang di sekitarnya, sekaligus kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Semua itu berujung pada diajukannya Ajo Kawir untuk berkelahi menghadapi Si Macan, jagoan yang telah lama tak terkalahkan. Ya, jangan heran, bila novel ini kemudian seperti berubah menjadi cerita silat. Eka memang membebaskan dirinya untuk memasukkan berbagai unsur dalam novelnya, dari cerita silat ala Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap hingga roman picisan stensilan terminal bus ala Fredy S dan Valentino.

Berbagai "genre" itu diramu menjadi sebuah dunia alternatif yang serba mungkin, vulgar, brutal, parodik, karikatural, mesum. Tokoh-tokoh datang dan pergi, saling terkait, yang satu menentukan nasib yang lain, melakukan aksi-aksi yang mengubah hidup masing-masing.

Pertualangan Ajo Kawir berlanjut di jalanan, sebagai sopir truk dan di dunia barunya itu ia pun bertemu orang-orang baru, menjalani sebuah kehidupan baru. Adegan balapan truk di jalanan antar kota antar propinsi menjadi salah satu bagian paling menarik dan paling menegangkan dari novel ini. Namun, secara keseluruhan, novel ini memang menguarkan aroma ketegangan yang mencekam.

Dengan bahasa tanpa bunga-bunga, Eka menampilkan sebuah dunia yang "dingin", tempat bagi orang-orang berusaha melampiaskan keinginannya terhadap orang lain. Ambil contoh Mono Ompong, kenek Ajo Kawir ketika menjadi sopir truk. Di usianya yang masih sangat muda, keinginan Mono hanya satu, bisa tidur dengan Nina, kembang di desanya, meskipun gadis itu ternyata "bayaran". Mono pun mencari duit dengan menjadi kenek untuk bisa "membeli" Nina.

Begitu pun dengan Paman Gembul, yang ingin membunuh Si Macan, dengan meminta bantuan Ajo Kawir, tanpa pernah menjelaskan alasannya. Dan, Ajo Kawir memutuskan untuk tak bertanya. Sebab, Si Tokek telah berkata kepadanya, semakin banyak yang kau ketahui, semakin banyak masalah yang bisa kau peroleh.

Lewat kisah tentang "burung" (Ajo Kawir) yang tak bisa berdiri, Eka Kurniawan meledek dan menertawakan banyak hal yang selama ini diyakini kuat-kuat dalam kehidupan. Seperti Ajo Kawir yang akhirnya tak terlalu ngotot menginginkan "burung"-nya bisa berdiri lagi. Ia justru menjadikan "si burung" sebagai bahan bercandaan untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya. Saat ia sudah memutuskan untuk tak mau lagi berkelahi, kepada Mono Ompong ia berkata, "Burungku bilang aku tak boleh berkelahi."

Mono pun menukas, "Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?"

"Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja," itu jawab Ajo Kawir.

  • Kisah tentang Burung yang Tak Bisa Berdiri
  • Kisah tentang Burung yang Tak Bisa Berdiri

(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed