DetikHot

art

Tutup 10 Tahun, Gedung Kamar Gelap PFN Kembali Bernyawa

Rabu, 02 Apr 2014 09:00 WIB  ·   - detikHOT
Tutup 10 Tahun, Gedung Kamar Gelap PFN Kembali Bernyawa (Astrid Septriana /detikHOT)
Jakarta - Ketika gelombang teknologi digital melanda dunia, banyak teknologi berbasis analog yang langsung ditinggalkan. Teknologi digital yang bisa menghasilkan produk lebih cepat dan lebih banyak tentu keuntungannya lebih menggiurkan.

Akibatnya, banyak alat-alat produksi berbasis analog yang terbengkalai. Termasuk dalam hal produksi film. Di Indonesia salah satu pusat produksi film analog ada di komplek Produksi Film Negara (PFN), yang terletak di kawasan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur.

Setelah 10 tahun terakhir gedung itu dibiarkan tak terurus, Sabtu sore (29/3/2014) lalu, tampak sekelompok orang muda yang seolah memberi nyawa kembali pada bangunan renta itu.

Sejak pagi, di tempat ini sudah digelar workshop Lab Laba-Laba. Ini adalah lab dimana kita bisa memproses film seluloid yang dihasilkan oleh kamera rekam analaog menjadi sebuah tontonan yang bisa dilihat melalui alat proyeksi film.

Kelas workshop ini sudah dua kali dibuka, memang peminatnya belum banyak. Tapi mereka yang terlibat di dalamnya juga berharap, ini bisa menjadi alternatif baru agar kita tak terpaku hanya pada teknologi digital. Berikut detikHOT sajikan laporan lengkapnya.

***

Edwin adalah seorang sosok pria yang berada di balik Lab Laba-laba, komunitas yang menggelar workshop ini. Sutradara film berjudul 'Babibuta Ingin Terbang' dan 'Postcard from the Zoo' ini telah menghasilkan sekitar 10 judul film ini. Dia berinisitaif untuk mengulik dan menggunakan kembali benda-benda pemprosesan film yang kini mulai dianggap usang.

"Lab Laba-Laba inginnya jadi tempat bisa saling berbagi, dimana teman-teman bisa belajar sama-sama," kata Edwin kepada detikHOT (29/3/2014) di Gedung Lab Kamar Gelap, PFN, Otista Jakarta Timur.

Edwin berharap kegiatan ini bisa mengumpulkan orang-orang yang ingin menggunakan kembali kamera rekam analog, agar bisa belajar bersama dan tukar pikiran.

"Lab untuk ini sudah tutup semua meskipun filmnya masih ada. Tapi dengan lab ini kita bisa memproses film sendiri dan ada beberapa teman yang tertarik," kata Edwin tentang pendirian Lab Laba-laba ini.

Niat Edwin dan teman-temannya untuk menggunakan kembali gedung tua yang sudah terbengkalai untuk lab kamar gelap itu disetujui oleh Direktur PFN. Maka di gedung yang sudah tak terpakai selama 10 tahun, tadinya tanpa air dan listrik itu anak-anak muda ini bereksperimen. Mereka pun membersihkah gedung itu bersama-sama sebelum memanfaatkan labnya.

Gedung dulunya memiliki sosok bangunan yang wah! Dengan konstruksi bangunan tua nan kokoh, kini dinding mukanya mulai diisi dengan grafiti juga semak belukar. Jaring laba-laba, debu tebal, retak-retak pada lantai dan dinding juga menjadi saksi kekosongan gedung ini.

Tangki-tangki besi besar pada langit-langitnya membuktikan tempat ini pernah jadi ruangan yang sibuk ketika produksi film seluloid berjaya dulunya.

"Kepikiran memakai tempat ini, kita kan tahu PFN ini dulunya besar sekali dan tahu ada banyak film besar yang diproduksi di sini. Pasti mereka punya alat-alat yang sudah enggak tahu mau diapakan," kata Edwin. yang baru pulang belajar film di Belanda tiga bulan lalu ini.

Baru bulan lalu workshop Lab Laba-Laba digelar di tempat penuh sejarah film ini. "Kebetulan PFN alat-alatnya masih ada beberapa yang masih bisa dipakai. Mereka senang karena jadi ada merawat alat-alat yang tak dipakai lagi ini."

Prinsip dari lab ini pun tak muluk-muluk. Selain ada proses kreatif untuk mengenalkan cara membuat film dengan kamera rekam analog yang menggunakan film seluloid 35 mm atau 16 mm, mereka juga sering kali mengulik ide-ide dan cara memproses film dengan sederhana, untuk melampaui keterbatasan yang ada. Bisa dibilang Lab Laba-laba tak banyak beli barang baru kecuali untuk filmnya.




(ass/utw)
Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed