DetikHot

art

Film Dokumenter Indonesia Jadi Sorotan di Amsterdam

Rabu, 11 Des 2013 11:48 WIB  ·   - detikHOT
Film Dokumenter Indonesia Jadi Sorotan di Amsterdam Fatih, anak kecil yang jadi subyek film Chairun Nissa (dokpri)
Jakarta - Sutradara perempuan Chairun Nissa yang akrab disapa Ilun, baru memulai proyek film dokumenternya pada tahun 2011. Sebelumnya lulusan S1 Penyutradaraan Film di Institut Kesenian jakarta ini banyak membuat film fiksi.

Sejak itu, ia kini telah memiliki enam judul film dokumenter. Antara lain, Payung Hitam, V Talks, Petualangan Wakatobi, Serang Simpang Lima, Chocolate Comedy dan Tarian Malam.

Prestasinya yang terbaru adalah, filmnya yang berjudul Chocolate Comedy mendapat kesempatan untuk diputar di International Documentary Film Amsterdam, pada November 2013. Film ini merupakan hasil loka karya dari lembaga Kalyanashira, untuk film dokumenter anak-anak.

Ilun saat itu mendapat mentor langsung dari warga negara Jerman dan Belanda. \\\"Ini film dokumenter Indonesia pertama yang perspektifnya anak-anak. karena di Indonesia kan kurang media untuk anak-anak,\\\" ujarnya kepada detikHOT (09\/12\/2013) di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

\\\"\\\"

Film yang diproduksi awal 2013 ini menceritakan seorang anak 7 tahun, bernama Fatih Unru. \\\"Dia punya bakat untuk menjadi stand-up comedian tapi dia punya kegelisahan, dari umur 4 tahun dia alergi sama cokelat.\\\"

Alerginya cukup parah, Fatih bisa sampai masuk Unit Gawat Darurat bila memakan sekeping cokelat.

\\\"Alergi itu berdampak ke temperamennya, dia jadi pemarah dan sensitif, ini menginspirasi dia untuk bercerita lewat stand-up comedy,\\\" kata Ilun.

\\\"Fatih anak kecil, tapi bisa hadepi masalahnya dengan komedi, enggak semua orang bisa kayak gitu.\\\"

Ilun menemukan Fatih dari laman Youtube, karena memang anak ini mengunggah lawakannya ke situs itu. Ilun terus menelusuri jejak Fatih dan akhirnya bertemu. Cerita awalnya hanya ingin menceritakan anak yang membawa lakon komedi.

Namun, saat berjalannya proses Ilun tahu Fatih alergi cokelat dan ini langsung ia bulatkan menjadi cerita di film berdurasi 13 menit ini. Alhasil film ini terpilih dari 300 film di Amsterdam.

\\\"Di Amsterdam itu menarik. Film saya kan diundang untuk diputar di museum Leiden, saya bingung kenapa dari 300 film di Amsterdam, film saya yang dipilih. Ini film saya kenapa ya? Apa yang bikin mereka tertarik?\\\"

Ilun menjelaskan saat itu yang datang banyak dari kalangan akademisi. Ternyata para akademisi itu cukup fokus dengan isu yang ada di wilayah Asia Tenggara.

Jadi film Ilun dianggap mewakili pertanyaan-pertanyaan mereka soal Indonesia, terutama soal sosial media di Indonesia.

Para penonton disana juga kritis soal anak-anak. \\\"Untuk mengkritisi bahwa di Indonesia memang tidak ada yang membahas isu besar anak, dan mereka peduli tentang itu. Jadi Fatih bisa mewakili cerita dari perspektif anak-anak,\\\" ujar Ilun.

\\\"\\\"





(ass/utw)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed