DetikHot

art

Vivian Wijaya Berhenti Jadi Dokter, Bikin Sekolah Manga

Senin, 26 Ags 2013 16:55 WIB  ·   - detikHOT
Vivian Wijaya Berhenti Jadi Dokter, Bikin Sekolah Manga
Jakarta - Komikus asal Indonesia, Vivian Wijaya atau drVee sudah melanglang buana hingga ke Jepang. Ia pun menjadi satu-satunya mangaka (pembuat manga) tanah air yang berhasil menerbitkan karyanya tiap bulan di koran Jepang.

Sejak usia 4 tahun, Vee sudah menyukai tokoh-tokoh komik yang ada dalam anime. \\\"Saya belum bisa baca, tapi saya suka nonton Doraemon,\\\" katanya kepada di detikHOT di studio drVeeMangakaClub Jalan Sultan Iskandar Muda Jakarta Selatan Minggu (25\/8\/2013).

Lantaran keinginan orang tuanya agar ia menjadi dokter, Vee bersekolah di Royal College Surgeon of Irlandia. Usai kuliah, hasratnya tetap ada ingin menjadi komikus. Selama 8 bulan pun ia kursus di Machiko Manga School.

Kemudian, mengambil sekolah kejuruan manga di Nippon Designer School di Tokyo selama tiga tahun. Di sana, ia pun menjadi asisten mangaka tersohor Jepang, Kenjiro Hata yang terkenal dengan karya Hayate The Combat Butler.

Wanita kelahiran Jepang ini menguasai tiga bahasa yaitu Indonesia, Inggris, dan bahasa Jepang. Pada 2006, ia menerbitkan buku komik pertamanya berjudul PramBanana yang diterbitkan Elex Media Komputindo.

Kini, usai menjadi komikus, Vee membuat sekolah komik di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ketika detikHOT mengunjunginya di sekolah mangaka yang berada di atas Restoran Stonegrill ini, ada enam siswa yang sedang belajar.

\\\"Idealnya, satu kelas itu 35 orang. Memang banyak tapi itu kelas profesional yang bisa ada daya saing dan tekanan satu sama lain bagi mereka,\\\" ujarnya.

Sekolah yang sudah ada sejak Oktober 2012 ini memiliki 7 level pembelajaran. Jika di Machiko Manga School, mengajarkan materi dasarnya yakni imajinasi dalam ide cerita. Sedangkan di sekolah drVee sejak awal sudah diajarkan gambar dan cerita.

Ia bercerita tingkat terendahnya adalah pelajaran mengenai cara membuat cerita dalam beberapa panel komik. Selanjutnya yakni teknik goresan dan spesial effect di manga. Serta nantinya adalah karya orisinil yang digunakan sebagai contoh bagi penerbit.

Namun, selama setahun ini ia mengevaluasi sekolah dengan konsep 10 pertemuan tatap muka ini kurang efektif. \\\"Banyak mangaka dari luar Jakarta dan luar Indonesia yang ingin ikut tapi enggak bisa karena jarak.\\\"

Rencananya, pada Oktober tahun ini ia akan menerapkan sistem kelas online di setiap levelnya. Modalnya adalah dengan menggunakan skype dan punya scanner di rumah. Kelasnya akan berbentuk seperti video conference. Tugas siswa setiap minggunya juga akan dikirimkan kepadanya.

Kelas ini sudah diterapkan kepada beberapa siswanya dari Jerman dan Australia. \\\"Hasilnya positif, kelas bisa dijalankan, mereka juga bisa membuat karya,\\\" ujarnya.

Dengan adanya sekolah seperti sistem di Amerika dan Eropa ini, Vee berharap akan ada banyak orang yang mendaftar dan tak ada lagi halangan jarak. Kini, di sela kesibukannya mengajar sekolah dan menyiapkan konsep baru, sejak November 2011 setiap bulan ia mengirimkan komik strip berjudul \\\'We Are the World\\\' di Shonen Sunday.

Wanita yang kini tinggal di Indonesia ini mengaku prestasi yang dijalaninya belumlah bisa dikatakan sukses. Ia masih memiliki misi lainnya. \\\"Saya mau menyebarkan manga ke orang-orang non-Jepang, kalau di sana sudah seperti budaya. Di luar Jepang yang belum,\\\" katanya.



(utw/utw)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed