DetikHot

art

Wiji Thukul dan Para Jenderal yang Marah

Senin, 13 Mei 2013 15:08 WIB  ·   - detikHOT
Wiji Thukul dan Para Jenderal yang Marah
Jakarta - Dalam pelariannya, Wiji Thukul bahkan masih bisa bercanda. Ketika hujan turun, ia pun menulis syair: hujan malam ini turun\/ untuk melindungiku\/ intel-intel yang bergaji kecil\/ pasti jengkel....<\/em>

Tentu saja, ada kegetiran di balik lirik yang terkesan bergurau itu. Wiji pun melanjutkan: malam yang gelap ini untukku\/ malam yang gelap ini selimutku\/ selamat tidur tanah airku\/ selamat tidur anak istriku\/ saatnya akan tiba\/ bagi merdeka\/ untuk semua<\/em>

Itulah salah satu puisi yang terhimpun dalam buklet kumpulan puisi berjudul \\\'Para Jendral Marah-marah\\\' yang diterbitkan sebagai bonus Majalah Tempo edisi khusus memperingati 15 tahun reformasi, dengan judul sampul \\\'Teka-teki Wiji Thukul\\\'. Kumpulan tersebut memuat 49 puisi, termasuk puisi-puisi Wiji dalam bahasa Jawa.

Sebagian besar dari puisi dalam buklet setebal 37 halaman itu ditulis Wiji dalam pelariannya sebagai buron politik pemerintah Orde Baru. Wiji adalah penyair yang belakangan terjun ke politik praktis lewat Jaringan Kerja Kesenian Rakyat, bagian dari Partai Rakyat Demokratik yang muncul pada 1996. Puisi-puisinya menyuarakan penderitaan rakyat, dan mengandung jargon-jargon perjuangan yang menggetarkan para jenderal di Jakarta kala itu.

Judul buklet tersebut diambil dari salah satu puisi Wiji yang berjudul sama. Layaknya kebanyakan karya Wiji, puisi tersebut walau menyimpan kepedihan tetap ditulis dalam gaya yang santai, dibungkus dengan hal-hal rutinitas keseharian dalam kehidupan rumah tangga rakyat kecil. Berikut petikan puisi \\\'Para Jenderal Marah-marah\\\':

Pagi itu kemarahannya disiarkan<\/em>
oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku<\/em>
yang menonton. Istriku kaget. Sebab<\/em>
seorang letnan jenderal menyeret-nyeret<\/em>
namaku. Dengan tergopoh-gopoh <\/em>
selimutku ditarik-tarik. Dengan<\/em>
mata masih lengket aku bertanya:<\/em>
mengapa? Hanya beberapa patah kata<\/em>
keluar dari mulutnya: \\\"Namamu di <\/em>
televisi....\\\" <\/em>

Puisi Wiji tak pernah bertele-tele dengan metafora. Bahkan, salah satu puisinya yang terhimpun dalam kumpulan ini terang-terangan mengungkapkan bahwa dirinya tak memerlukan metafora untuk mengatakan pikiran dan isi hatinya. Seperti tampak pada puisi berjudul \\\'Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?\\\'

Waktu aku jadi buronan politik<\/em>
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik<\/em>
namaku diumumkan di koran-koran<\/em>
rumahku digrebek --biniku diteror<\/em>
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi<\/em>
(anakku --4 th-- melihatnya!)<\/em>
masihkah kau membutuhkan perumpamaan<\/em>
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA<\/em>









(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed