'Golden Path of Love', Pagelaran Penuh Cinta untuk Bumi Tersayang

Mauludi Rismoyo - detikhot
Sabtu, 22/12/2012 10:40 WIB
Golden Path of Love, Pagelaran Penuh Cinta untuk Bumi Tersayangist.
Jakarta -
Sebuah pagelaran kolosal bertajuk 'Golden Path of Love - Persembahan Cinta Untuk Bumi' usai digelar dengan kemasan cerita, balutan musik, tari, dan teater yang indah. Pertunjukan tersebut dalam rangka acara perayaan ulang tahun WWF ke-50 di Indonesia.

Pagelaran yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (21/12/12) malam itu menampilkan lebih dari 200 pendukung acara seperti penari, model, artis, hingga musisi. Sekitar pukul 20.20 WIB acara dimulai.

Sebagai penampilan pembuka diisi dengan pembacaan puisi oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan. Puisi yang dibacakannya berjudul 'Bumi Adalah Ibu Kita' karya sutradara pagelaran tersebut, Rani Badri Kalianda.

Setelah dibuka dengan puisi, muncullah lima orang warga pedalaman dengan membawa tongkat, lentera, dan beban di pinggulnya. Cerita 'Golden Path of Love - Persembahan Cinta Untuk Bumi' pun dimulai saat kelima warga pedalaman itu muncul.

Mereka diceritakan hendak keluar dari hutan. Hal itu disebabkan adanya ekosistem hutan yang tak seimbang. Kemudian 7 bidadari datang sambil terbang dengan memakai tali sling. Ketujuh bidadari itu memakai selendang yang berbeda seperti warna merah, orange, ungu, biru, hijau, pink, dan kuning.

Lalu mereka menari dan melepaskan selendangnya untuk mandi tapi tiba-tiba mereka mendengar kegaduhan yang terjadi di hutan. Ternyata hutannya dirusak oleh tangan manusia sendiri dan bidadari-bidadari itu pun pergi.

Selanjutnya baju rancangan dan sekaligus penggagas acara ini, Raden Sirait mengenalkan kebaya dengan desain yang mewakili daerah Indonesia. Lima model maju ke atas panggung dengan menggunakan pakaian daerah Riau, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Papua.

Untuk segmen kedua, dengan latar sepasang pohon kering muncul lah aktor senior Tio Pakusadewo dengan monolognya. Di pohon lain terlihat pula seorang wanita yang bercerita tentang mirisnya kehancuran hutan.

Pagelaran sejenak dihibur dengan tari-tarian dan nyanyian, instrumen musik pimpinan Viki Sianipar begitu apik dimulai dari awal acara. Penyanyi asal Papua, Edo Kondologit akhirnya menghibur dengan suara merdunya. Ia berduet dengan grup vokal Jamaica Cafe bawakan lagu 'Yamko Rambe Yamko'.

Penonton masih dihibur kembali, kali ini oleh Putri Ayu, pemilik suara seriousa itu tampil di atas kapal dengan background lautan lepas. Boyband Max 5 juga memeriahkan acara tapi tidak untuk bernyanyi melainkan berakting. Mereka menjadi nelayan yang menangkap ikan dengan cara yang salah yaitu dibom.

Kelima orang pedalaman itu kembali dan Ibu Pertiwi yang melihatnya pun sedih. Penonton dibawa tidak untuk bersedih karena muncul lah dua musisi muda. Adalah Iskandar Widjaja dan Rama membawakan simfoni yang syahdu dengan alat musik jagoannya masing-masing ialah biola dan harpa. Mereka berdua bawakan dua lagu 'Indonesia Pusaka' dan 'A Thousand Years'.

Sampai juga di akhir cerita ketika Ratu Peri berpesan kepada Ibu Pertiwi untuk tidak bersedih lagi karena Indonesia adalah nafas dan daya hidup bagi alam dan lingkungan di dunia. Lepas dari itu, hadir para model dengan pakaian yang unik seperti Ika Fiyonda berbusana ikan paus, Duma Riris berbusana Panda, Qory Sandioriva berbusana beruang kutub, dan Agni Pratista berbusana ala antariksa.

Sepanjang 120 menit pagelaran, penonton cukup terhibur. Pagelaran 'Golden Path of Love - Persembahan Cinta Untuk Bumi' masih ada dua hari yaitu pada 22 dan 23 Desember di tempat yang sama.


(fk/fk)
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,


MustRead X