Indonesian Contemporary Art and Desaign 2012

Ketika Seni Rupa dan Desain Bertemu di Kaleng Kerupuk

Is Mujiarso - detikhot
Selasa, 08/05/2012 11:30 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/05/08/1059/icad3-dlm.jpg
Jakarta -
Kaleng-kaleng kerupuk tiba-tiba "mejeng" di salah satu lorong bagian belakang lantai dasar Hotel Grandkemang, Jakarta. Benda-benda itu tampak anggun di atas papan-papan bertiang tinggi, berkelompok dalam beberapa bagian terpisah. Ada yang kosong, ada pula yang benar-benar ada kerupuknya.

Yang jelas, semua kaleng yang mejeng itu sudah tak polos lagi. Di sisi-sisinya telah dilukis, atau dihias dengan gambar-gambar potret diri. Seniman Ayang Kalake memanfaatkan dinding-dinding kaleng kerupuk itu sebagai kanvas ataupun media untuk mencetak gambar.

Karya bertajuk 'Kaleng Kerupuk' itu memang tidak kebetulan berada di situ. Pemandangan tersebut merupakan bagian dari gelaran Indonesian Cotemporary Art and Desaign (Icad) 2012 yang akan berlangsung hingga 15 Juni. Tak kurang dari 37 seniman ikut ambil bagian dalam pameran tahunan yang telah memasuki perhelatan ke-3 itu.

Ada sejumlah kemajuan, antara lain dari segi jumlah seniman yang tampil, yang melonjak dua kali lipat lebih dibandingkan tahun lalu. Tahun ini mengusung tema 'GEN i Us', Icad masih setia dengan konsepnya mempertemukan dunia seni rupa dengan desain, industri hotel, teknologi dan hiburan.

Tidak semuanya merupakan karya baru, memang, yang hadir dalam Icad kali ini. Instalasi berjudul 'Education' karya perancang busana Oscar Lawalata misalnya, sebelumnya telah tampil di pameran 'Dysfashional' di Galeri Nasional, Mei tahun lalu. Dalam instalasi ini, Oscar menata kursi-kursi layaknya sebuah ruang kelas. Namun, kursi-kursi kayu mungil itu telah dibungkus dengan aneka kain batik, tenun dan ikat.

Karya-karya yang tampil di Icad 2012 dipajang dari kolam di depan hotel, lobi, lorong belakang lantai dasar, hingga sebagian lantai dua. Perupa Hanafi menampilkan instalasi ukuran besar yang terbentang di depan lobi pintu masuk samping. Karya berjudul 'Original:Fake' itu menampilkan cetak sidik jari yang dihamparkan dalam sebidang plat balok persegi panjang.

Berdampingan dengan itu adalah 'Constellation Neverland' karya Adi Panuntun, sebuah instalasi dome yang didalamnya terdapat video mapping. Memasuki dome itu, kita berasa masuk ke dunia lain, sebuah negeri bersalju yang mungkin menjadi obsesi dan fantasi bagi warga dari negeri yang hanya mengenal musim hujan dan kemarau.

Adi Panuntun bukan nama baru di pergelaran Icad. Tahun lalu ia juga memamerkan karyanya. Hardiman Radjab tahun ini juga muncul kembali dengan ciri khasnya yang memanfaatkan benda-benda sekitar yang familiar. Kali ini, ia menampilkan serangkaian karyanya lewat koper. Benda yang biasa dipakai untuk bepergian itu, di tangan Hardiman berubah menjadi metafora yang menyindir situasi sosial-politik aktual negeri ini.

Mempertemukan seni rupa dengan desain memang bukan hal baru dalam pameran seni rupa di Tanah Air. Bahkan, kecenderungan itu memang telah menjadi tren beberapa tahun belakangan. Yang beda dari Icad, pameran tersebut hadir di hotel, dan bukan galeri seni, sehingga memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjangkau dan ditengok publik yang lebih luas.

(mmu/mmu)
Baca Juga
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


MustRead X