Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Terancam Ditutup

Adhie Ichsan - detikhot
Sabtu, 19/03/2011 11:32 WIB
http://us.images.detik.com/content/2011/03/19/1059/hb.dlm.jpg (ist.)
Jakarta -
Berita menyedihkan datang dari dunia sastra. Pusat dokumentasi sastra terlengkap di Indonesia, HB Jassin terancam ditutup karena kekurangan dana.

Hal tersebut disampaikan seniman Sitok Strengenge dan pelaku sastra lainnya, Eka Kurniawan. Mereka sangat prihatin dengan kondisi tersebut karena PDS HB Jassin adalah salah satu aset nasional yang perlu mendapat perhatian pemerintah.

PDS HB Jassin didirikan oleh pengarang, penyunting, dan kritikus sastra H.B. Jassin pada tanggal 28 Juni 1976. Saat ini, lebih dari 48 ribu dokumen sastra yang terdapat di PDS HB Jassin. Di tempat itu, tersedia ruang baca yang terbuka untuk publik.

Eka mengaku sangat mengandalkan PDS HB Jassin untuk mendapatkan referensi jika ingin menulis esai. Selain koleksi sastra pribadi dari HB Jassin, terdapat juga draft naskah, buku sastra, kartu pos dan tulisan tangan karya sastra Chairil Anwar.

"Di situ koleksinya sangat langka, ada tulisan tangan Chairil Anwar. Saya juga waktu nulis naskah, nyari esai Asrul Sani itu susah banget. Buku-buku atau artikel tentang dia hampir nggak ada. Dapetnya ya di HB Jassin," ujar Eka saat berbincang dengan detikhot via telepon, Sabtu (19/3/2011).

Penulis novel 'Cantik itu Luka' tersebut melanjutkan, selain membutuhkan dana, PDS HB Jassin juga memerlukan penambahan fasilitas yang memadai. Karena jika penyimpanan dokumen tersebut tidak benar, maka akan gampang rusak atau hancur.

Selama ini, sumber dana untuk pengelolaan PDS HB Jassin berasal dari pemerintah. Karena tidak bersifat komersial, PDS HB Jassin yang terletak di Taman Ismail Marzuki itu amat bergantung pada subsidi.

"Akibat kurangnya subsidi itu, yang bahkan tak cukup untuk bayar listrik dan pemeliharaan fasilitas, #PDS hampir tak mungkin bertahan," tulis Sitok lewat akun Twitternya.

Jika PDS HB Jassin tidak mampu bertahan, bagaimana nasib genarasi muda di masa yang akan datang untuk mengetahui sejarah sastra bangsanya? Mengutip kalimat dari mantan Presiden Soekarno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat dan menghargai sejarahnya. "Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah," ucap Bung Karno.
(ich/ich)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!
Baca Juga
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


MustRead X