'Atambua 39 Derajat Celcius': Apakah yang Kita Bela Akan Peduli Nasib Kita?

Anis Ardianti - detikhot
Senin, 12/11/2012 11:31 WIB
Halaman 1 dari 2
http://us.images.detik.com/content/2012/11/12/218/atambuadlm.jpg
Jakarta -
Ketika sebuah keluarga yang pada mulanya saling mencinta harus terpisah karena kedua orangtua harus memilih, dan pilihan mereka jatuh pada dua sisi yang berbeda, siapa menjadi korbannya?

'Atambua 39 Derajat Celcius' merupakan film terbaru kolaborasi dua sineas Riri Riza (penulis skenario, sutradara) dan Mira Lesmana (produser), yang sebelumnya pernah pula bersinergi dalam 'Eliana, Eliana' (2002), 'Gie' (2005), 'Untuk Rena' (2005), '3 Hari untuk Selamanya' (2007) dan 'Laskar Pelangi' (2008). Mengambil lokasi utama di Atambua, Nusa Tenggara Timur film ini menceritakan tentang pedihnya kehidupan pengungsi di perbatasan, setelah referendum Timor Timur (kini Timor Leste) pada 1999 lalu. Beberapa dari mereka yang memilih untuk tetap membela Indonesia menetap di Atambua tanpa kehidupan yang jelas.

Ronaldo (Petrus Beyleto), seorang bapak yang karena kecintaannya terhadap Merah Putih, memilih untuk meninggalkan istri, seorang anak perempuan dan satu lagi anak yang masih dikandung sang ibu. Saat perpecahan di Timor Timur terjadi, istri Ronaldo memilih untuk tetap tinggal di Liquica, kampung halamannya di Timor Leste. Ronaldo bersikeras, Timor bagian dari Indonesia, dan harus kembali ke pangkuan Merah Putih. Dalam ‘pelarian’-nya ke Atambua itu, Ronaldo mengajak serta Joao, anak lelakinya. Menurutnya, anak lelaki harus mengikutinya bapaknya.

Sedalam itu cinta Ronaldo pada Indonesia. Namun, apa yang didapat Ronaldo di Atambua? Hidupnya tidak menentu. Ia hanya sopir bis serabutan, yang tidak diperhitungkan karena sering mabuk dan membuat takut penumpang. Ya, mabuk dan judi menjadi pelarian atas kemarahan dan depresi yang mengikutinya, akibat terpisah dari keluarga, lalu mendapati ideologinya yang tak sesuai kenyataan, dan tak bisa diperjuangkan lagi.

Hubungannya dengan Joao (Gudino Soares) pun tak dekat. Ronaldo selalu pulang larut malam, dalam keadaan mabuk, dan hanya mendapati Joao yang sedang tertidur. Namun kecintaan Joao terhadap ayahnya begitu nyata meski si Bapak tak melihat. Joao setia membersihkan muntahan bapaknya saban pagi. Dan tetap mencari ketika Ronaldo tidak pulang dan ternyata menginap sebagai tahanan di penjara akibat pertengkaran ‘ideologis’ di sebuah klab biliar.

Joao adalah sosok yang haus kasih sayang. Ia tidak sempat merasakan kasih sayang sang Ibu meski masih dapat mengingat sentuhan dan bau wangi dada Ibunya. Rekaman suara ibu dalam sebuah kaset menjadi denyut hidupnya, yang selalu menarik-nariknya ke masa lalu, dalam dekapan Ibu. Dalam hatinya, Joao memiliki kasih sayang, yang kemudian ingin ia curahkan pada Nikia (Putri Moruk), teman masa lalu yang saat itu menjadi tetangganya.

Nikia pun punya kisah sendiri. Ia menghilang dari masa lalu Joao untuk pergi ke Kupang. Nikia datang ke Atambua untuk berduka karena meninggalnya sang Kakek, Mateus. Meski memiliki latar belakang yang getir, Nikia juga seorang pejuang. Kekuatan hati seorang Nikia tampak di layar manakala seorang diri ia harus mengangkat batu-batuan untuk menutup makam dan membawa sendiri salib dari besi tempa, yang juga untuk penanda makam sang kakek.  Next »

Halaman 12

(mmu/mmu)
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


MustRead X