Jakarta - Presiden SBY menerima keluhan tentang mahalnya pajak perfilman di Indonesia. Pajak film di dalam negeri jauh lebih mahal dibanding pajak film luar negeri. SBY pun meminta hal itu dicek.
"Saya baca di sebuah media massa, statement Hanung Bramantyo, bahwa pajak membunuh perfilman sendiri. Karena pajak yang ditetapkan pada perfilman nasional jatuhnya jauh lebih mahal daripada import film atau buat film luar negeri," ujar SBY.
SBY mengatakan itu dalam pengantar sebelum Rapat Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (23/12/2010).
Menurut SBY, tidak benar jika pajak perfilman di dalam negeri lebih mahal. Karena itu SBY pun meminta pihak terkait untuk mengecek kebenarannya.
"Tolong itu dicek apa itu benar? Kalau tidak benar tentu harus dibenahi," kata SBY.
SBY juga mengaku mendapat pesan singkat dari sosiolog Imam Prasodjo yang mengatakan ada negara sahabat yang ingin membantu perfilman Indonesia secara sukarela. Namun ternyata bantuan itu terbelit biaya pajak dan sebagainya.
"Kita harus membayar pajak padahal ini adalah sukarela," imbuh SBY.
SBY menyampaikan, jika pajak perfilman mahal maka dapat menghalangi perkembangan investasi industri. "Saya tidak katakan itu salah. Tapi terus dicek, kalau tidak tepat tentu kita perbaiki. Karena hal seperti itu menghalangi perkembangan investasi industri dan sebagainya," tutup SBY.
(nik/hkm)
Anda punya gosip heboh seputar artis Indonesia? klik di sini dan dapatkan hadiah menarik tiap bulannya