Jakarta - 'Edge of Darkness' seharusnya adalah film yang penting, karena film ini menandakan kembalinya Mel Gibson ke dunia akting setelah absen lebih dari tujuh tahun. Tapi nilai penting film ini ternyata ya hanya itu, ajang kembalinya Mel Gibson. Selebihnya, 'Edge of Darkness' hampir tidak menawarkan nilai lebih apa pun.
Film ini berkisah tentang upaya detektif polisi Tom Craven (Mel Gibson) untuk mencari keadilan atas pembunuhan putrinya (Bojana Novakovic). Cerita tentang balas dendam yang kemudian diperumit dengan konspirasi politik dan pesan tentang kejahatan korporasi. Sekilas memang terdengar menarik, sayang, film ini dirusak dengan minimnya adegan aksi serta dangkalnya intrik cerita.
Alih-alih film aksi penuh laga ala 'Taken' seperti yang sekilas terlihat di trailer filmnya, durasi film 'Edge of Darkness' ternyata lebih banyak didominasi oleh dialog tipikal film konspirasi semisal 'Michael Clayton'. Sayangnya lagi, dialog-dialog itupun terkesan dangkal dan hanya membuang-buang waktu. Bisa dibilang bahwa film ini nanggung dan kurang jelas arahnya, walaupun sudah dipegang oleh sutradara hebat, Martin Campbell, yang membuat 'Casino Royale'.
Hal ini masih diperparah dengan lemahnya akting pemeran-pemeran pendukung, sehingga karakter Mel Gibso yang memang bermain bagus jadi terlihat sangat kuat. Tapi mungkin juga itu adalah hal yang bagus. Karena tujuan utama film ini memang untuk mengobati kerinduan kita akan kehadiran Mel Gibson di depan layar. Bagi mereka yang tidak menyukai sosok yang belakangan rajin menjadi sutradara tersebut, mungkin bisa berpikir dua kali sebelum memilih Edge of Darkness.
oleh: Ahmad Muhtar W.
(hkm/hkm)
Anda punya gosip heboh seputar artis Indonesia? klik di sini dan dapatkan hadiah menarik tiap bulannya